“Hey, bangun!”

Kamu beri jiwa ku ‘malas’ jadi makanannya. Jadinya aku diam mematung, menunggu kamu tersadar dari lelap untuk menyapa.

Rindu bagai alergi yang terjang akal sehat dan rohani yang lemah. Rindu buat bodoh otak dan jantung dalam dada terasa resah.

Apa yang kau agungkan dari aku yang bagai kubangan lumpur pemandian para babi? Tak habis pikir.

Entah berapa kali sudah aku bertanya-tanya lagi.

Advertisements

Aku

bagai mayat hidup yang menunggu nyawa menyapa lagi.

Asa

entah melayang kemana adanya.

Aku

hanya bersama mimpi yang terlalu tinggi.

Teruskan

Teruskanlah kemalasan.

Teruskanlah merebah dan bercumbu dengan empuk kasur yang menggoda.

Teruskanlah suguhi jiwa dengan selingan penghilang penat yang tak beresensi dan penuh sampah.

Teruskanlah mengutak-atik hape dengan jemari yang melekat dan sukar lepas itu.

Teruskanlah bermimpi, walaupun tiada ada usaha yang membuat progres.

Teruskanlah mencinta dan menjadi buta akan masa depan.

Teruskan.

Teruskan saja.

Hidup hanya untuk formalitas. Hidup untuk kepentingan mereka. Dibutuhkan bila ada maunya. Semua manusia begitu.

Ketika urusan selesai, mereka meninggalkannya lagi. Sendiri ia duduk menyepi. Dalam hening, menahan tangis dan sesak yang mencoba berteriak.

(Tanda Kutip) Pengelana // Prologue

Isak tangis, tersengal nafas, sembab kelopak mata, sesak dada, hitam awan. Kawan setia yang mendampinginya mengawali tahun.

Melihat ke belakang, ia lihat langit malam berlukiskan pelangi. Gelap dengan segores keindahan semu yang bersembunyi dalam kelam.

Di atas bantal kepala nya rehat. Di atas ranjang tubuh merebah. Di dalam kamar raganya tergolek lunglai. Dewasa ini, akan kah Tuhan membimbingku baik, atau makin membuat ku terjerumus goda setan jahanam? Pikirnya sejenak. Lalu, perlahan aliran air mata membasahi pipinya dan jatuh terserap kain bantal.

Night thoughts. Kala malam datang, dan horizon berubah hitam. Berjuta bintang menghias udara tapi terhalang polusi cahaya. Lalu benak berkeliaran kemana-mana. Berlari-lari dan dengan iseng membuka memori lama. Duka, juga suka.

Di larut itu, ia bersyukur. Ada sesosok manusia yang setia menunggu di kota seberang, dan ikhlas memberi kasih dan separuh jiwa. Namun, ada sedikit dari hati kecilnya yang menyesal setengah mati karena telah membukakan pintu untuk pria sialan itu. Yang memberi dan meminta cinta dengan penuh nafsu. Yang pernah terjerembab ‘obat’, dan mungkin hingga kini, dan mungkin sampai nyawa di raga tercabut izrail. Yang egois. Yang menganggap Tuhan sebelah mata karena fisiknya yang tiada. Yang begitu, dan itulah ia.

Apa boleh buat, pikirnya.

Love conquers all.

Dan pada akhir pun, atau di tengah perjalanan pun, semua jiwa yang berdosa akan sadar. Walau hanya oleh secercah kecil cahaya ilahi.

Terlalu berat memikirkan hal-hal sepele ini, batinnya. Apalagi di malam 1 Januari, yang tak seharusnya ia awali begini.

Ia biarkan semua bayang kelam terbang menjauhi kepalanya satu-satu, lalu menyambut kantuk dengan lembut.

Kelopak mata mulai berat terbebani kantuk. Mulut menguap kecil. Sang gadis pergi tidur. Ia harap bisa jumpa jawaban dari segala problema nya dalam sebuah bunga tidur.

اَيَوَدُّ اَحَدُكُمْ اَنْ تَكُوْنَ لَهٗ جَنَّةٌ مِّنْ  نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۙ  لَهٗ فِيْهَا مِنْ كُلِّ  الثَّمَرٰتِ ۙ  وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَآءُ  ۚ  فَاَصَابَهَاۤ  اِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمُ  الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ

“Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 266)