Sepi

Ku kagum dalam jauh

Rindu arungi malam gulita

Tanpa terang bintang pada hitam langit

Pada siapa ku sapa

Atau ungkap ini pada nya

Siapa kamu belum ku tau

Karena benarnya kita tak pernah bertemu.
Sepi ku sendiri

Berangan pada imaji

Atas waktu yang tak layak dikira.
Kapan datang nya?

Tanya hati pada benak.

Karena lunglai ku tunggu waktu.

Jemu.

Serasa semu.

Andai bisa kembali ke waktu kemarin

dimana kita mematung di dalam sepi

di atas bentang padang hijau

di bawah lembayung horizon biru.

Andai bisa mengulang waktu kemarin,

sewaktu penat kala malam memberi sapa

dan ada saja cerita kita untuk saling bicara.

Sewaktu detik-detik di hari lamanya serasa seribu satu malam

Dan habis sabarku tuk menunggu esok datangi hari.

Agar sepasang mata dapat memandang,

agar se-gores senyum bisa terpampang

yang aku lihat dalam kejauhan mu yang terjangkau

dimana kita mematung di dalam sepi

di atas bentang padang hijau

di bawah lembayung horizon biru.
And I wish that I’ve said it before you got someone else,

because our story was just a perfect thing to happened.

A very short story-telling

Aku sendiri. Dan di ranah maya ini ingin rasa bercerita panjang. Timbul tanya oleh benak sendiri: “why not putting all this things on your private journal but on an online blog? Well, no one’s gonna see it anyway.” Ya, no one will ever found this blog anyway. Tapi, apa ya, ini seperti mencari perhatian khalayak luar. Seolah barang tertimbun tak nampak yang ingin ditemukan keberadaannya. Seakan-akan dunia harus tau tentang manusia suram nan puitis ini. Berharap seusai membaca frasa-frasa berantakan ini, ada sedikit peduli untuk sang penulis amatir ini.

Apa arti sebuah sosial media? Orang-orang pamerkan hal-hal yang bahkan penting pun tidak ke muka umum. Orang banyak, siapa pun, bahkan orang luar benua pun bisa liat. Bahkan aib sendiri atau orang pun tak peduli disebar demi mendapat “apresiasi”. Dengan sosial media, manusia-manusia itu merasa dihargai; lebih dari eksistansi mereka di atas bumi ini. 

Sungguh sedih. Walau, ironis, aku pun sama.

Night Thoughts

Ku rasa waktu berjalan terlalu cepat, bumi berrotasi kurang lambat, bulan-tahun berganti tak terkira. Seakan masih di hari kemarin kami – aku dan kawan di bangku Sekolah Dasar – bermain pasir dan ayunan di taman, atau berlarian di tanah lapang, atau bersepeda kemana alur jalanan membawa diri. Tapi tanpa pernah dirasa kalau akan menjejaki masa orang dewasa, untuk melangkah jauh lagi dan bersiap saja ‘tuk lambaikan tangan perpisahan kepada masa kanak-kanak di belakang.

“Aku, “

​Aku, manusia tanpa tujuan, yang haus dan serat akan pujian. 

Aku, manusia yang tak miliki mimpi. Merangkak, merayap, mengais-ngais tanah, berimaji tanah kerukannya dengan magis semburkan mata air ajaib. 

Aku, orang yang iri hati saksikan bahagia yang bukan ada pada genggamnya. 

Aku, anak berderai tangis fana yang tusuk kalbu sampai tembus jantung dan arteri. 

Aku, bukan buta warna yang nikmati rona dunia dalam bayang hitam putih.

Aku, yang merasa sendiri di atas bumi berjuta manusia.