Bila Boleh Berandai

Apa sebenarnya

diam-diam kita sudah berjumpa pada satu muara?

Tapi dua mata kita buta,

tak dapat menebak sedang berdiri dihandap siapa.

Apa sebenarnya

tanya kita akhirnya berbalas juga? 

Tapi telinga ku tersumbat oleh bingung

dan suara mu hilang termakan badai.

Apa sebenarnya

ingin sekali kita berbicara

pada sesama yang tengah gundah

tentang aku, tentang kamu,

tapi nyali sedikit pun bahkan tak ada? 

Apa sebenarnya

semua kira ku salah? 

Rasanya,

harapku fana.

Semua hanya khayal saja. 

Selamat pagi

Di luar terang. Di sini gelap. Jendela masih tertutup tirai kelabu. Di luar terang, tapi mentari hanya mengintip saja dari balik awan-awan yang berserak.

Di luar ramai; ibu-ibu belanja sayuran dari gerobak, soang berteriak minta makan, dan lalu-lalang motor yang berangkat kerja. Tapi di sini sepi; aku merebah lemas di kasur, sebagian orang rumah masih nyaman dalam lelap, dan kehidupan pagi belum terlalu nampak di sini. 

Sudah setengah siang. Aku masih malas. Aku masih terbaring dan menulis ini. Aku masih menunggu balas atas tanya yang tak pernah terucap. Ia tak sempat tersampaikan.

Sudah hampir siang. Aku ingin mengeluh, tapi raga terlalu malas untuk mengadu. Biar saja mulut bungkam dalam diam. Biarlah untuk sementara. Sepilah untuk sekejap.

Selamat pagi, ku harap nanti kita bisa bersua dalam tawa. Atau nanti, di malam hari pada mimpi. 

“I’m not ready yet.”

Bisa saja aku menangis seharian karena dihantui rasa takut yang merajam. Takut berdiri sendiri. Takut dilupa nanti. Takut ditinggal pergi. Takut untuk pergi. Takut tak berkawan lagi. 

Sudah sakit selama ini. Aku yang sedikit bicara, aku yang banyak bungkam, aku yang malu bergerak, aku yang takut mendekat. Tak betah aku dalam kebiasaan diri. Tapi apa mau dikata, susah kali melepas habit yang sudah melekat erat pada rangka.

Besok pun terpaksa ku sambut mentari pagi yang menyapa ‘selamat datang ke dunia penuh tanda tanya’. “Welcome to adulthood.”

Tapi, siap kah?

Mungkin aku ‘nomophobia’. Dimana sesosok manusia yang tak bisa melepas dunia maya dari genggamnya. Padahal tulisan dan semua isi di dalamnya adalah fana. Hanya berupa ilustrasi kode-kode yang berterbangan. Entah, di mana-mana.

Ada rasa ingin memperdulikan mereka, orang-orang dekat yang jauh dari ada ku. Ingin pula aku diperduli. Tapi anganku itu berbalas juga tidak. Terabaikan, terlupa. Diasingkan seperti buku lama yang usang dan membosankan.

Ingin aku perduli. Ingin aku tau kehidupan di luar. Ingin aku mencinta. Ingin aku disuka. Ingin aku ini. Ingin aku itu. Ingin aku semuanya.

Tapi siapalah aku bagi mereka? Hanya kawan pelengkap. Siapa butuh? Tak ada. Siapa aku? Manusia cuma-cuma. 

Tak pernah nampak setetes air mata keluar dari pelupuk. Tidak, aku tidak sedih. Aku kecewa, aku marah, aku benci, aku dibuang, aku takut, aku sendiri.

Biarkan saja untaian kalimat barusan terbang di antah berantah tanpa ada satu pun yang akan jumpai. Selamanya dunia ku akan bersembunyi di balik malu. Selamanya takut ku berdiam di balik riang ku. Selamanya aku hanyalah debu.

Asing. Selalu asing. 

Ironi (2)

Sendiri dalam diam dan tak pernah ditanya mengapa. 

Raut masam tiap waktu dan tak pernah dihiraukan sebabnya.

Hati menangis tak berhenti dan tak pernah mau tau adanya. 

Dunia memang panggung untuk sendiri. 

Tanah untuk bersama diinjak, tapi cukup dijalani sendiri.

Angan, aku ingin hilang.

Tapi, aku takut. 

Yang tadi tak diperduli, 

Malah nanti dilupa.