Mungkin aku ‘nomophobia’. Dimana sesosok manusia yang tak bisa melepas dunia maya dari genggamnya. Padahal tulisan dan semua isi di dalamnya adalah fana. Hanya berupa ilustrasi kode-kode yang berterbangan. Entah, di mana-mana.

Ada rasa ingin memperdulikan mereka, orang-orang dekat yang jauh dari ada ku. Ingin pula aku diperduli. Tapi anganku itu berbalas juga tidak. Terabaikan, terlupa. Diasingkan seperti buku lama yang usang dan membosankan.

Ingin aku perduli. Ingin aku tau kehidupan di luar. Ingin aku mencinta. Ingin aku disuka. Ingin aku ini. Ingin aku itu. Ingin aku semuanya.

Tapi siapalah aku bagi mereka? Hanya kawan pelengkap. Siapa butuh? Tak ada. Siapa aku? Manusia cuma-cuma. 

Tak pernah nampak setetes air mata keluar dari pelupuk. Tidak, aku tidak sedih. Aku kecewa, aku marah, aku benci, aku dibuang, aku takut, aku sendiri.

Biarkan saja untaian kalimat barusan terbang di antah berantah tanpa ada satu pun yang akan jumpai. Selamanya dunia ku akan bersembunyi di balik malu. Selamanya takut ku berdiam di balik riang ku. Selamanya aku hanyalah debu.

Asing. Selalu asing. 

Andai kamu tau, 

aku itu rapuh. 

Apa boleh ku merindu

pada mu dibawa mega biru?

Karena waktu ku bangun dan bermimpi

akan bertemu di esok hari,

tak kusangka kini

ku jumpa mu lagi.

Am I wrong that I just felt extremely desperate and just wanted to love you so bad? Because this heart won’t stop pounding from last night when I met you, and it’s beating hard for no reason. 

I guess I just like us. It’s cute. We’re kinda cute. But I guess I should’ve been braver to talk to you and not being such an introvert infront of you. I felt so weird, you know. It’s all too early. But that’s all a-okay. 

Ironi (2)

Sendiri dalam diam dan tak pernah ditanya mengapa. 

Raut masam tiap waktu dan tak pernah dihiraukan sebabnya.

Hati menangis tak berhenti dan tak pernah mau tau adanya. 

Dunia memang panggung untuk sendiri. 

Tanah untuk bersama diinjak, tapi cukup dijalani sendiri.

Angan, aku ingin hilang.

Tapi, aku takut. 

Yang tadi tak diperduli, 

Malah nanti dilupa.

Gloomy summer. 

Tapi boleh lah aku iri kepada mereka yang berhati riang dengan hari yang ber-rona pelangi. Karena dalam ramai aku sepi. Pada gaduh aku sunyi. Ingin menangis tapi siapa mau peduli? Tiap hari harus bersembunyi di balik muka walau tak terhindar pilu nya. Sakit, tapi siapa mau peduli? Biar saja aku sendiri, walau orang-orang mengerumuni tanpa peduli. Biar anggap aku fana, yang padahal ada ku mau kau anggap nyata. Teman? Kata itu selamanya tak kan bisa ku cerna betul. 

Ironi

Menilai hidup sendiri itu bagaikan dipaksa saksikan layar tancap bertayangkan film penyiksaan tiada tara. Tentang kesendirian, tentang kehampaan, tentang cambukan, tentang betapa bumi manusia yang sebenarnya amatlah asing.

Hati sadar ketika raga ditaruh di tengah kerumunan/ gerombolan/ sekelompok orang yang bercanda ria dengan sesama. Yang masing-masing bahagia dengan tawanya. Yang mencintai rupa sendiri. Yang percaya diri. Yang punya jati diri. Betapa senang, betapa bahagia, betapa riang. Sesaat keindahan rasa adalah yang terpenting bagi manusia; itu pikirku. Lalu aku pandangi lagi lagak-lagak mereka yang bersuka cita itu. Sesaat kemudian pula benak berkata, senang nya mereka bukanlah apa-apa. 

Aku masih memandang bahwa seorang yang berhasil menjadi ‘manusia’ adalah bagi siapa yang bisa menoreh coretan sejarah bermakna dalam lembar waktu-waktunya. Yang dikenal orang dari apa yang telah ia beri untuk umat di tanah pertiwi. Bukan pelajar biasa dengan cita-citanya yang sederhana, atau karyawan kantoran dengan cita-cita setinggi andromeda tanpa satu orang luar pun mengetahui kehendak luar biasanya. Bukan juga orang yang sembunyi di dalam bumi.

Tapi bisa apa aku? Yang mengutarakan kalimat hanya dalam lembaran maya. Yang diam bermilyar kata tanpa bisa bertindak apa-apa. Walau sudah berbuat tapi ternyata tak seberapa yang terkira. Bisa apa aku? Bisanya cuma iri dan menghina mereka-mereka yang bahagia, hanya karena aku hampa akan harapan bisa bersuka.

– Nglambor, Jogjakarta.

..a photographer is its own photographer. ‘Cause they think they’re not photogenic enough to have their pic taken. Like, we take beautiful pictures of people and stuff, and we thought the result was beautiful and they too were satisfied. But when it comes to taking picture of a photographer, umm…no thank you.”

*so, now you know the ‘insecurity’ that all photographers have. (maybe? Kinda. Or is it just me.)