Pagi Tadi

“Semesta menyapa di bilik jendela
Fajar yang tlah tersepakati
Miliki dunia,meranai titik hujan
Pagi merandai sambut ilalang
Cemara menghampiri kekekalannya
Udara di penghujung masa
Miliki dunia meranai titik hujan
Pagi merandai sambut ilalang
Harum tanah yang rindu akan tetumbuhan
Terlelap di teduhnya malam
Senyawa nyala di pelupuk mata air
Menderaikan hening dunia
Cemara menghampiri kekekalannya
Udara di penghujung masa
Miliki dunia meranai titik hujan
Pagi merandai sambut ilalang
Cemara menghampiri kekekalannya
Udara di penghujung masa
Cemara menghampiri kekekalannya
Udara di penghujung masa
Miliki dunia,meranai titik hujan
Pagi merandai sambut ilalang.”
– Senyawa, Pagi Tadi
Advertisements

“Manusia penyendiri perlu tangan ke-tiga.”

“Aneh ya, mahasiswa ga punya temen. Padahal udah kehidupan ngampus lho? Gak normal ah.”

I don’t want to be myself neither. Tapi bagaimana kamu bisa menilai kalau tidak menjadi dirinya dan jalani hari nya?

Di sini bukan cuma satu yang begitu. Ada banyak. Mereka dimana-mana. Orang-orang yang dipandang aneh, yang padahal mereka juga nggak mau jadi orang freak anti-sosial kaya gini. Ada rasa takut menyuara, ada rasa takut angkat bicara, ada rasa takut unjuk muka, ada rasa gelisah saat berdiri di tengah hiruk-pikuk kerumunan, ada rasa malu, ada rasa bingung, dan lainnya. Ini sepenuhnya adalah mindset yang sudah tertancap kekal di jati diri, dan sampai mati akan mustahil untuk dienyahkan seluruhnya.

Mereka (kami) bukan butuh hina, sindiran, ejekan. Mereka butuh tangan, mereka butuh bantuan untuk menarik diri dari lumpur hisap yang menelan ego.

I’ve hit rock bottom

“When your hearts got no more
You’re lying dead on the floor
The wounds in your back are still sore
And everyone who watched you
Watched on in awe
But now you see it’s nothing but poor
Another lost soul
Never accomplished a goal
Or made a light out of their lives
And they’re the ones who pulled out the knife
Oh, like that, everything is gone in front of your eyes
Your hands have lost the grip on their prize
And you’ve got no more tries
Cause you’ve lost them through lies
Oh but your lucky this time
And hopefully it’ll make you seem more wise
Or otherwise
They’ll leave you to your own demise.”

– King Krule, Rock Bottom.

Apakah adalah ‘standar’? Apakah adalah ‘permintaan nafsu mereka’?

Apalah makna sebuah standar? You tell me.

Kamu dan segala tingkah laku, kata-kata dan semua ucap, puja-puji pada wanita, membuat ragu akan respect mu pada kami, kaum hawa.

Selain dari Anda, ada juga dari mereka-mereka yang men-‘dewa’-kan wanita atas kemolekan tubuh, putih nya kulit yang membalut daging, empuknya buah dada penuh goda, bibir merah bergairah, dan atas paras cantik tiada tara. Dan yang seperti terdiskripsi ini lah adalah wanita yang pantas disebut ‘cantik’.

Sebuah standar gila untuk memenuhi syahwat mata dan ‘kawan’ di bawah selangkangan kalian. Untuk puaskan tuan yang ingin memandang ‘keindahan’ dari makhluk Tuhan yang paling sempurna.

Bohong kalau ada yang bilang “wanita sudah tak di objektifikasi.” Ini fakta, dan Tuhan sekali pun tak akan mengenyahkan laku bejat ini dari otak para adam.

‘Cantik’ bagi kalian adalah asupan. ‘Cantik’ bagi kalian adalah ‘kebutuhan’. Cantik bagi kalian adalah normal. Yang beda dari ‘standar’ adalah sampah dapur busuk yang tak layak dikonsumsi

From what I see, standar cantik yang lagi marak adalah korean and asian girls with white skin, small thigh, big (but not so big) boobs, long straight hair, with makeups, cute dress (“diutamakan bawahan yang setengah paha”), body with the shape of a violin or spanish guitar, and acting cute. But most of the girls who ‘act cute’ are so fuckin annoying and so fake. Really tho, you guys are actually cringy instead of cute. But is it always like this? Selalu beginikah yang kalian inginkan, ha?

Kalau iya, then fuck it. Go to China, or just marry a chinese who worships korean pop with their whole life and entire soul. Di cina, ada berjuta mereka yang menjadi ‘standar’ kalian. Saking banyaknya, seperti kloningan kambing dolly yang tak ada beda. And about kpopers, it is because they’re trying hard to look like kpop artists. So, you see, normies. But you never care anyway, right boys?

Atas standar kalian, kami ada rasa minder. Atas standar kalian, kami takut maju ke atas panggung dan tampil. Atas standar kalian, kami merasa sebusuk-busuknya sampah. Atas standar kalian, kami malu.

Let’s see a case. Suatu kesimpulan yang ku ambil setelah beberapa lama berada di Little China bernama Kota BSD.

Aku berjalan masuk-keluar kampus. Kupu-kupu, kuliah-pulang kuliah-pulang. Kemeja dengan lengan dilipat se-sikut, jeans, dan running shoes jatah kejuaraan. Di lain hari aku berkaos, jaket jeans, celana hitam panjang, and wearing the same running shoes. Rambut sebahu tanpa model macam-macam. I’m comfy that way. Yet, mereka memandang aku aneh dan mirip laki-laki. How fucking come? I got long hair, that makes me a girl right. Oh, maybe because of my clothing? But I’m comfortable that way. I don’t need to be a fashionista, karena pakaian ada untuk dipakai tutupi aurat dan bukan bahan pamer (or maybe my simple point of view is kinda weird for everyone to see). Okay. Intinya, aku kalah ‘menarik’ diantara yang lain.

And then I decided to cover my hair with a veil. Entah kenapa setelah itu, harga jual sedikit naik, walau sebenarnya tak berpengaruh secuil pun terhadap jalannya kehidupan. Perempuan berhijab seolah lebih bernilai, lebih mahal. Seperti yang sering telinga kita jumpa dengar,

“Kamu lebih cantik pake hijab.”
“Perempuan lebih cantik kalo pake hijab.” “Perempuan yang berhijab tuh gimanaaaa gitu.”

Katanya mah lebih sholeha. Lebih baik. Lebih alim. Lebih cantik. Lebih lebih. Bullshit hahah.

Wearing a veil did not change anything from me. I’m still a tomboy with boyish clothing, I still listen to so-called hell music, and everything are still the same. What do you expect? Karena hijab hanyalah selembar kain yang membalut kepala, bukan kartu mantra pengubah kepribadian. Ga ada keajaibannya, sumpah.

Never make a standard. Never judge anyone by appearance. Accept everyone for who they are and how they look like. Don’t let anyone be an outcast because of those stupid standard that makes them (us) insecure.

Last but not  least,

“standard is bullshit”.

.

(end).

 

tersungkur

Tuhan,

hamba tak kuasa jumpa realita,

bahwa sebenarnya uang adalah nyawa,

nyawa adalah uang.

Tanpa topangan rupiah,

individu jadi sia-sia bak sampah – edukasi tinggi perlu dia, sandang pangan perlu dia.

Sedang aku

berjalan sendiri.

Harus cari dia dimana?

Perlu kah mengemis belas kasih para ‘Tuan’?

Lelah pula berpusing-pusing bersama rencana.

 

“Kasihani lah hamba..”