Ku benci malam yang jadikan kita liar.

Bagai binatang yang haus akan mangsa.

Bagai anjing yang haus akan cinta.
Ku benci kita.

Bagaimana pula bisa kenal dirimu?

Ku benci takdir.

Ku benci waktu yang bawa mu ke sini.

Setidaknya,

Kemarin, hari ini dan esok hari,

Tak sunyi lagi.

Biarlah angin berlalu dan menghempas aku.

Serasa hampa saat ditinggal sebentar saja.

Rapuhnya aku yang berdiri sendiri saja tak mampu.

Kini aku menunggu ‘tuk waktu datangkan mu.

23:22

Harus kah kita berpacu dalam waktu ? 

Harus kah turuti nasib yang memaksa kehendak ? 

Harus kah ikuti tujuan yang mengekang bebas ?

Harus kah pergi saat memori masa kecil belum siap berpisah ? 

Harus kah rela melepas genggam akan kenangan manis ? 

Harus kah kita jadi kian dewasa ? 

Harus kah aku berevolusi ? 

Harus kah aku sikapi problema nyata ?

Harus kah aku

hadapi yang ada ? 

Aku hening saat ditanya.

Bungkam dan bukan pada saatnya.

Lalu kala diam menerpa mereka, mulutku berkicau.

Saat mata tak dapat saling menatap, aku bersuara.

Kontribusi ku malu-malu.

Aku hanya seorang penyanyi di balik panggung.

Lalu di hadapan penonton kembali ku mematung.

Kenapa kah aku ini..

Lelah menunggu terang. 

Aku hilang arah

lagi.

Tersesat dalam muram. 

Buta ku cari terang.

Sekelilingku hanyalah hitam dan gelap. 

Walau malam cerah tanpa awan, 

mengapa pipi basah oleh air? 

Mengaliri baju, menetesi bumi. 

Lalu terbenam pada tanah.
Ku raih-raih tangan pada hampa,

yang ku dapat sentuh pun nihil.

Ku tunggu waktu ‘tuk cepat hilang. 

Untuk ia pergi cepat. 

Untuk ia usir penat. 

Tapi, 

angin peluknya erat. 

Tak pernah ia hembus kencang. 

Waktu,

dia setia

bersama memori

yang membunuh

perlahan.
Lalu aku duduk

sendiri.

Di antara kabut, 

di hadapan laut mati. 
“Andai aku menapakkan kaki

berjalan ke dalam mu

akan kah ku hilang? 

Akan kah waktu berhenti? 

Akan kah memori mati?”
“Tidak,”

jawab laut, berbisik lewat derai ombak.

“Terombang-ambing saja kau jadinya. 

Bersama apa pun yang bersama mu itu

ke tengah samudera

atau pun segitiga bermuda.

Hilang, 

tapi tak hilang.”

Sendu, 

aku bosan. 

Dengan mu, 

aku benci

sangat. 

Tentang Langit

Fajar. 

Senja. 

Pada matahari, 

aku kagum. 

Pagi hari, 

ia terbit.

Lewat celah rindang dedaunan, sinarnya selimuti tanah.

Hangat, dan iring-iringan angin dingin berhembus juga.

Menjelang gelap, 

ia tenggelam. 

Ada salam perpisahan. 

Matahari mau pulang, 

dan akan kembali sebagai fajar pada esok. 

Lalu malam menyapa.

Bergelimang bintang. 

Mereka, kematian yang  indah rupa nya.
Pada matahari,

aku mencinta.