Capek.. Hidup ga ada progress..

Advertisements

Salahkah seorang tak miliki seorang kawan pun ‘tuk di kenal? Karena ia tak serupa dengan lainnya. Tak selayaknya manusia yang hidup bersosial.

Ia mengasing, dan bukan atas kehendak diri.

Distance is our worst enemy.

Pada malam buta angin membisik. Tak hanya itu, tapi seakan meneriaki dengan riuhnya yang ributkan rindang pohon di halaman. Gelap lembayung beserta petir meledak-ledak. Deras hujan hujam tanah berpijak.

Berapa lama mata sesama tak saling beri sapa? Lama nian hingga lukai dada atas sesak — nafsu ku ingin jumpa raga mu. Jarak terbataskan waktu yang membangun dinding gigantis di tengahnya. Kita, yang tak berdaya, hanya mampu tunggui nasib.

Diri ber-iri hati pandangi mereka, muda-mudi yang jejaki setapak berdua dengan jemari yang saling mengait. Diri cemburui mereka, lelaki dan wanita terpaut kasih yang bisa berbagi tawa lewat udara dan memberi kecup pada pipi, dan bukan perbincangan lewat ketikan teks via jaringan maya atau rayu manja yang tersampaikan bukan lewat sosok yang terdapat di hadapan. Diri membenci kita atas jarak yang terlampau jauh tuk di raih.

“When will we meet again?”

23.34 p.m., sepulang berkelana

Papasi malam naiki kereta. Pemandangan kota gelap tak jelas terhalang jendela hitam kereta.

Waktu sebelumnya, kami lepas tertawa. Entah sudah semenjak kapan ku dapat bebas ekspresikan gelak tawa tanpa harus bermuka dua.

Keramah-tamahan manusia dan kejujuran insan dalam bersikap seolah membuat hari yang muram durja jadi manis ceria. Menelaah pribadi yang berbeda membuat diri mengerti, bahwa sikap toleransi haruslah hadir tuk hiasi mayapada agar tak monoton rona nya.

Seturunnya aku dari kereta, kepala menengok sekitar mencari tumpangan pulang. Pria bermotor berjaket/berhelm hijau bagai bertaburan di sepanjang jalan layang – ampun banyaknya. Berdiri seorang bapak dengan jaket kulit coklat memanggil setiap orang yang bernasib sama denganku – sedang mencari tumpangan pulang. Memang nasib ojek pangkalan, mereka terabaikan atas ajuan harga yang terlampau tinggi. Sedikit sedih, banyak mirisnya. Memang terkesan tidak adil, dan memang lah kasihan. Ku putuskan hari ini untuk menjadi rezeki bagi nya; aku memesan ojek bapak itu.

Sepanjang jalan kami berbagi kata dan kalimat-kalimat yang kurang jernih di telinga akibat riuh angin jalanan yang mendominasi percakapan. Seputar kuliah, seputar sedikit kehidupan di daerah sini yang ternyata cukup ‘gelap’ (pembuangan mayat dan begal), seputar problema dunia, dan lainnya. Di awal, ia mengeluh. “Disini sepiiiii neng,” karena profesi tukang ojeknya makin kurang diminati para penumpang milenial yang makin kekinian yang dengan mudah memesan tumpangan lewat sentuhan jari.

14.55 p.m., menjelang sore.

Lagi-lagi berdiri sendiri di dalam benak bersama opini yang seolah terpenjara dan terrengut hak kebebasannya. Ingin teriak, ingin mengucap, tapi dunia hanya akan menutup telinga dan memaki tak acuh. Itu pasti.

Langit menggelap atas awan kelabu yang selimuti bentang langit di hari Senin. Kelas ramai, namun mulut orang-orang terkunci rapat oleh keseriusan pada kertas gambar dan layar di depan mata.

Sekitar ramai seperti biasa. Sekitar gaduh seperti biasa.

Tapi diri masih sepi.

Aku terbiasa dengan suasana dimana orang-orang yang ‘berbeda’ mau menghargai lainnya yang puasa hingga adzan maghrib berkumandang. Aku terbiasa dengan kata ‘maaf’ sebelum melahap sepotong daging ayam dan apa pun itu di depan mereka yang tengah menjalankan ibadah puasa. Aku terbiasa dengan tidak pamer makanan di depan mereka yang muslim pada ramadhan. Tapi, apakah menjadi pengecualian untuk mengabaikan segala kebiasaan itu atas dasar “kami adalah minoritas disini”?

Kami kaum minoritas. Kami, pribumi, memang minoritas. Yang berkulit putih, yang mata sipit, yang menyembah Isa, mendominasi.

And in my point of view, statement itu yang membuat mereka seolah berkuasa dan meraja. Kami yang seolah dituntut mengerti, bahwa islam yang minoritas, harus mengalah.

Apa ini benar? Atau apa ini salah?

Kaki seorang kawan melangkah santai memasuki ruang dengan gorengan tergenggam di tangan – warna kuningnya menggoda nafsu. Setengah anggota kelas sedang puasa.

Terduduk di lorong-lorong, manusia-manusia dengan lahap menyuap nasi dengan tangan kedalam mulut yang menganga menerima konsumsi. Yang melewati hanya memandang iri.

Cobaan kah? Mereka sengaja tanpa punya rasa peduli. Mereka sengaja tanpa ada rasa harus peduli.

Menghargai? Dihargai? Memanglah sudah tak perlu dihiraukan penting keberadaannya lagi.

“Karena ego dan kepentingan diri duduk di atas segalanya.”