Siang Hari di Dalam Mimpi

Berat sekali rasanya hati, karena aku merindukanmu. Sakit, susah sekali ingin membuat benak lupakan kamu tapi cerita-cerita selalu kembali merayuku lagi. Sampai-sampai kamu ku bawa mimpi, tadi.

It was not you, exactly. Tapi seseorang yang mirip kamu, yang ku damba adanya. Ia, seorang anak laki-laki manis dengan nama yang lucu. Nama nya berdiri atas 3 huruf. Gadis kecil ini lalu dirayunya, dijahili sampai kesal tapi entah mengapa ia tertawa. Mereka tertawa. Aku ingat (di dalam tidur), bagaimana aku tersenyum, bagaimana ia tersenyum. Lalu, lama-lama, somehow but I don’t know how, kita terjatuh dalam suka. Ku kian sering memanggil nama dia berirama riang, dan dia hanya menengok dan tertawa kecil saja. Layaknya dua anak kecil berusia belia, kita bermain bersama tanpa kenal batas waktu yang ada. Tapi lalu cerita berubah aneh. Ternyata aku hanya orang ketiga nya. Aneh, kenapa begitu? The story fucked up.

Lalu aku bangun di pagi yang kesiangan. Kamar sudah terang saja. Sinar matahari terasa hangat selimuti ruang. Aku masih terbaring di atas kasur, mengingat cerita manis bersamanya di dalam mimpi.

Andai semua itu nyata adanya (except the last fucked up part of the dream), I’ll be the happiest person on earth.

“イト。”

Self-hatred. 

Rasanya diri lelah sekali. Tiada henti jiwa bergulat dengan ketakutan akan masa depan yang bahkan belum bisa kulihat atau gambarkan. Mental yang rapuh teramat sangat ini rasanya susah ditolong. Sedikit lagi dan ia akan hancur berkeping-keping, menjadi kerikil yang kemudian terkikis menjadi debu angin lalu. 

Aku ketakutan akan diri sendiri. Itu aneh. Tapi hal itu bisa buat aku menangis sendiri malam-malam di dalam kamar gelap, sesaat sebelum tidur. You know how thoughts suddenly passes by to say hello and brought you to the dark side of life. Membuatmu terpuruk, membuatmu berpikir tentang hidup. Gelap membawa ku ke dalam jurang, yang padahal sewaktu siang pun aku tak sedikitpun mengingat all the dark sides and stuff. The night then reminded me. Fuck. 

Terus apa? Mau gimana lagi? Life must go on. Walaupun “anjing”, memang. Sedihnya, aku harus berpetualang arungi jalan sendirian. Sepertinya tak ada satu kawan ku yang pernah peduli. Karena mereka pun punya sahabat yang lain yang mereka lebih perdulikan. So, kenapa merasa memerlukan mereka kalau mereka pun tak perlu? At least I got my parents. But still, I feel like an abnormal person to not have friends to share things that I wanna share. 

Aku menyedihkan. Yang biru, kelabu, dan suram. Yang aku cari hanya perhatian, dan keinginan untuk at least bisa menyukai diri sendiri.

Whaddup?

Hello world, it’s me. Insecured and depressed as usual.

I should be studying right now, really should. But instead, I’m watching youtube and some random things. Like Dodie Clark and her cute stuff, or music covers. Fuck school, I don’t even give a damn anymore.

I can’t wait for this exam-shit to end. Because, in my head, I got a LOT of stuff that I wanna do. A lot of fun things. ARGH (internal scream!!!)

*and I feel like my grammar’s getting worse too. shit.

Something in my head

What is

my motivation to live? 

Well, like teens this days, I’m just trying to get some attentions, and appreciations. With social media, yes. Because its easier, like a piece of cake. 

But I realise something, so unnecessary. 

That when I got less likes on posts and stuff, or when I saw my friends’ feeds are more ‘appreciated’ than mine, I felt so jealous. Like theres this envyness filling up my empty chest. And then I also realised that the real life I am living in is not appreciating me too. It did not give me the things I want, the love I wanted, and the respect I needed. 

So I think, seeking appreciation ‘this way’ is also useless. As useless as how hard I tried and ended up failing, over and over and over. 

Hai,  Jakarta. 

Sebentar saja ingin punya hari terjalani layaknya normal, 

tapi susah karena rasa ku berkeluh tiada berpeluh,

yang inginkan sesuatu jauh dari kemungkinannya. 
Sebentar saja ingin menggenggam mu. 

tapi susah karena hati berlabuh bukan di sini,

namun pada dermaga baru di depan mata mu. 
Sebentar saja ingin sempatkan mulut mengucap ‘suka’,

tapi susah karena seakan bibir melekat rapat,

dan jarak dan waktu yang terpisah terlampau jauh.

– Bogor, dan tak hentinya malam hujam darat dengan rintik hujan. 

I wanna die. That one is a desire of mine. But I don’t want to feel the pain. I guess I just don’t know what I really want. 

I wanna cry. Not just sometimes, but I always feel like I’m left alone and casted out by the society on purpose. 

I wanna change. But I got this really huge insecurities growing inside me and is uncontrolled. I’m so scared of what people are gonna say or think about those changes I will make. I hate those whispers behind their hand-covered lips, I hate those strange look stares, and most of all.. I just extremely hate myself. 

..for wanting to die

..for wanting to cry

..for being ugly me. 

I feel like I do not fit in any society in the world,  even with my friends. ‘Cause I got this uneasy feeling when I was grouped with some people for my yearbook photoshoot. But I thought that I’m just a trash and my fugly face and fugly hair and fugly taste of fashion will ruin our entire shots. I do hate myself for this,  for this insecurities that is growing inside my soul.