We are never okay.

Memanglah aku sendiri berdiri memijak dunia ini. Opini bahkan tak lagi bisa dihargai orang lain, sekecil atau sekritis apa pun itu. Sepertinya memang harus menyimpan kalimat untuk diri sendiri saja, walaupun memendam hasrat berkomentar bisa lama-lama membunuh jiwa perlahan.

Haruskah kita benar-benar tak melakukan apa pun atas suatu hal yang dirasa salah dan perlu arahan maupun solusi? Apakah harus benar-benar tidak acuh pada hal-hal yang benar-benar berpotensi merusak kualitas eksistensi manusia?

Gini lah, to the point.

Aku melihat teman memakai narkoba. Aku mendengar dia membangga dan membela ganja dan kawanannya. Aku dapati sendiri sebuah media menawarkan produk terlarang secara sangat terbuka tanpa tau malu kepada aku. Aku saksikan sebuah media mencaci, menghina, menyudutkan, menjelekkan, dan menyampahi Islam dengan segala kalimat menjijikkan.

Lalu pelan-pelan aku bergerak membimbing mereka dari jalan yang berbelok ke jurang. Lalu pelan-pelan ku kerahkan usaha semampuku untuk melaporkan segala tindak ilegal itu pada yang berwajib, walau baru sekedar niat.

Lalu mereka melarang. Lalu mereka berkomentar. Lalu mereka menentang.

“Mending diam aja, daripada ikut kena masalah.”

“Mending diam aja kalau nggak tau apa-apa.”

“Jangan sok tau, kamu aja belum coba sama sekali.”

“Jangan sok benar. Diam aja.”

“Tindakan kamu nggak akan merubah apa-apa.”

Dimana kebebasan? Dimana hak saya? Sudah dirampas opini masyarakat. Sudah dibunuh komentar mereka.

Seolah-olah mau berbuat benar adalah dosa terkeji yang diperulah manusia. Seolah-olah mengemukakan pendapat akan membunuh diri dan umat sejagad raya. Seolah-olah seseorang hidup bukan karena nyawa yang melekat di raga, tapi karena dikontrol oleh tangan dan mulut orang lain.

Atau

memang seharusnya kita terpaksa ikhlas jalani dunia dengan lapang dada dan mata terbuka,

dan menerima fakta

bahwa

kita tak pernah baik-baik saja?

 

Advertisements

Ga ada makanan

Isi perut bergemuruh

Meronta menyedihkan.

Isi perut panas

Ia mengeluh ‘kosong’.

Isi perut tak bersahabat

Racau benak dengan khayal.

Aku lapar.

Nihilnya konsumsi buat gila.

Harus kah pamer kebahagiaan?

Sosial media membuat semua orang di zaman milenial ini merasa bak artis dengan berjuta penggemar yang senantiasa menunggu kabar sang idola setiap waktu. Pamer pacar, pamer momen, pamer makanan, pamer kecantikan, demi views aka perhatian fana yang hanyalah sebuah tatapan-sedetik belaka. Siapa peduli? Siapa akan peduli? Who fucking cares, dude?

Perlu kah memamerkan apa yang kamu punya dan merasa perlu dibanggakan dan diangkat padahal penting dan berfaedah pun nggak. Ga update sebentar aja mungkin rasanya kaya mau mati, ya ga? Fuck you, manusia manusia panjat sosial.

Gila. Zaman edan. Teknologi jadi Tuhan. Ranah virtual jadi rumah baru. Likes jadi majikan. Ampun, ampun.

How to be human

I can’t stop thinking about this. But I’m tired of crying my heart out. But he said I should stop crying my heart out. But how could my heart not screamed when I saw frickin annoying people are whining about their perfect pathetic life?

Saking terlalu marah, jadinya cuma bisa nangis.

Melihat mereka, manusia-manusia mental sampah yang mengeluhkan satu hal sepele dan menghina orang yang menyudutkannya walau SECUIL saja.

Melihat mereka, dengan harta berlimpah tak terkira yang mengalir tak henti-henti dari orang tua tapi masih mengeluh ‘kurang’. Masih meminta, masih berkeluh kesah, masih haus, masih rakus.

Melihat mereka, yang mempunyai banyak sahabat yang siap melayani cerita hati setiap waktu tapi masih mengeluh ‘selalu sendiri’. (Lalu mereka apa? Cameo?)

Melihat mereka, dengan berkat duniawi Tuhan yang cukup dan bahkan berlebih tapi lalu dibanting saja ke tanah dan diinjak-injak sampai rata bersama tanah.

Hati di mana? Otak di mana?

Kamu bilang ingin mati. Ingin mati karena hatinya tak pernah beralih ke kamu.

Kamu bilang ingin mati. Ingin mati karena pendidikan memberi banyak tekanan pada jiwa.

Kamu bilang ingin mati. Ingin mati karena lelah menghadapi diri yang terlalu depresi.

Lalu diambilnya besi tipis nan tajam itu, yang kemudian dengan manis menyayat lengan putih itu hingga bergaris merah. Cairan kental lalu menetes ke lantai.

Ingin mati? Iya? Kenapa tak disayat sekalian sampai dalam saja? Hidup mu kan SAMPAH. Tak ada SEDIKIT PUN Tuhan peduli dengan eksistensi mu, kan? Mati aja. Mati.

Idiot, tau ga.

Why do people like you guys even exists? Mental illness? Bullshit. Ga semua orang ber-mental illness juga ill dalam attitude. Mereka paham cara yang baik dalam beretika. Mereka tau cara berkomunikasi yang baik dengan sesama manusia. Mereka masih ada respect, masih ada empati.

People like you better be extinct. I’ll be fucking glad for not having to meet creatures like you in the future.

Morning thoughts

Pada ruang hitam, ia tergolek. Pada hening, ia meratap. Dalam bisu, ia terisak.

Keseringan bungkam. Ia sadar, sendiri itu jauh dari menyenangkan. Walaupun hampir setiap waktu ia pinta Tuhan agar bisa berdikari tanpa perlu berparasit pada manusia siapapun. Walaupun hampir sepanjang umur ia lebih gemar mengasing dari kerumunan.

Pada ruang hitam, ia tergolek. Pada sunyi, ia bertanya.

Kalaupun dia mati di jam itu juga, siapa peduli? Siapa sadar? Ada kah?

Mimpi menjauh. Asa memudar, berpendar, pecah. Motivasi mati tiada sebab.

Keinginan terlalu tinggi. Harapan-harapan meluap tumpah. Tapi, apa daya diri tak kuasa mengejar mimpi.

Until

If I caught the world in a bottle
And everything was still beneath the moon
Without your love would it shine for me?
If I was smart as Aristotle
And understood the rings around the moon
What would it all matter if you loved me?
Here in your arms
Where the world is impossibly still
With a million dreams to fulfill
And a matter of moments until the dancing ends
Here in your arms
When everything seems to be clear
Not a solitary thing would I fear
Except when this moment comes near the dancings´ end
If I caught the world in an hourglass
Saddled up the moon so we could ride
Until the stars grew dim, Until?
One day you’ll meet a stranger
And all the noise is silenced in the room
you’ll feel that you´re close to some mystery
In the moonlight when everything shatters
You´ll feel as if you’ve known her all your life
The world’s oldest lesson in history
Here in your arms
Where the world is impossibly still
With a million dreams to fulfill
And a matter of moments until the dancing ends
Here in your arms
When everything seems to be clear
Not a solitary thing do I fear
Except when this moment comes near the dancings end
Oh, if I caught the world in an hourglass
Saddled up the moon and we would ride
Until the stars grew dim
Until the time that time stands still, Until?

– Until, Sting.