“..I really do.”

It’s been a long time since i laughed.

Meeting up with him was the highlight of my day..

If I didn’t see him for months; the thought of him still lingered and i do regret not kissing him…

Surprisingly he could sing as well.. but always self deprecated and couldn’t see how amazing he was.

So, he was truly… beautiful.

Yesterday when someone mentioned him, i couldn’t stop talking. i apologize for making your ears bleed..

Over and over i keep thinking back to our times together… and now i cry because he doesn’t want me.

Unreal was the only way to describe his beauty… I love him, but he feels rather indifferent to me… what a lonely person i am.

“i miss you.”

Bila Boleh Berandai

Apa sebenarnya

diam-diam kita sudah berjumpa pada satu muara?

Tapi dua mata kita buta,

tak dapat menebak sedang berdiri dihandap siapa.

Apa sebenarnya

tanya kita akhirnya berbalas juga? 

Tapi telinga ku tersumbat oleh bingung

dan suara mu hilang termakan badai.

Apa sebenarnya

ingin sekali kita berbicara

pada sesama yang tengah gundah

tentang aku, tentang kamu,

tapi nyali sedikit pun bahkan tak ada? 

Apa sebenarnya

semua kira ku salah? 

Rasanya,

harapku fana.

Semua hanya khayal saja. 

Selamat pagi

Di luar terang. Di sini gelap. Jendela masih tertutup tirai kelabu. Di luar terang, tapi mentari hanya mengintip saja dari balik awan-awan yang berserak.

Di luar ramai; ibu-ibu belanja sayuran dari gerobak, soang berteriak minta makan, dan lalu-lalang motor yang berangkat kerja. Tapi di sini sepi; aku merebah lemas di kasur, sebagian orang rumah masih nyaman dalam lelap, dan kehidupan pagi belum terlalu nampak di sini. 

Sudah setengah siang. Aku masih malas. Aku masih terbaring dan menulis ini. Aku masih menunggu balas atas tanya yang tak pernah terucap. Ia tak sempat tersampaikan.

Sudah hampir siang. Aku ingin mengeluh, tapi raga terlalu malas untuk mengadu. Biar saja mulut bungkam dalam diam. Biarlah untuk sementara. Sepilah untuk sekejap.

Selamat pagi, ku harap nanti kita bisa bersua dalam tawa. Atau nanti, di malam hari pada mimpi. 

“I’m not ready yet.”

Bisa saja aku menangis seharian karena dihantui rasa takut yang merajam. Takut berdiri sendiri. Takut dilupa nanti. Takut ditinggal pergi. Takut untuk pergi. Takut tak berkawan lagi. 

Sudah sakit selama ini. Aku yang sedikit bicara, aku yang banyak bungkam, aku yang malu bergerak, aku yang takut mendekat. Tak betah aku dalam kebiasaan diri. Tapi apa mau dikata, susah kali melepas habit yang sudah melekat erat pada rangka.

Besok pun terpaksa ku sambut mentari pagi yang menyapa ‘selamat datang ke dunia penuh tanda tanya’. “Welcome to adulthood.”

Tapi, siap kah?