Ironi

Menilai hidup sendiri itu bagaikan dipaksa saksikan layar tancap bertayangkan film penyiksaan tiada tara. Tentang kesendirian, tentang kehampaan, tentang cambukan, tentang betapa bumi manusia yang sebenarnya amatlah asing.

Hati sadar ketika raga ditaruh di tengah kerumunan/ gerombolan/ sekelompok orang yang bercanda ria dengan sesama. Yang masing-masing bahagia dengan tawanya. Yang mencintai rupa sendiri. Yang percaya diri. Yang punya jati diri. Betapa senang, betapa bahagia, betapa riang. Sesaat keindahan rasa adalah yang terpenting bagi manusia; itu pikirku. Lalu aku pandangi lagi lagak-lagak mereka yang bersuka cita itu. Sesaat kemudian pula benak berkata, senang nya mereka bukanlah apa-apa. 

Aku masih memandang bahwa seorang yang berhasil menjadi ‘manusia’ adalah bagi siapa yang bisa menoreh coretan sejarah bermakna dalam lembar waktu-waktunya. Yang dikenal orang dari apa yang telah ia beri untuk umat di tanah pertiwi. Bukan pelajar biasa dengan cita-citanya yang sederhana, atau karyawan kantoran dengan cita-cita setinggi andromeda tanpa satu orang luar pun mengetahui kehendak luar biasanya. Bukan juga orang yang sembunyi di dalam bumi.

Tapi bisa apa aku? Yang mengutarakan kalimat hanya dalam lembaran maya. Yang diam bermilyar kata tanpa bisa bertindak apa-apa. Walau sudah berbuat tapi ternyata tak seberapa yang terkira. Bisa apa aku? Bisanya cuma iri dan menghina mereka-mereka yang bahagia, hanya karena aku hampa akan harapan bisa bersuka.

– Nglambor, Jogjakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s