Siang Hari di Dalam Mimpi

Berat sekali rasanya hati, karena aku merindukanmu. Sakit, susah sekali ingin membuat benak lupakan kamu tapi cerita-cerita selalu kembali merayuku lagi. Sampai-sampai kamu ku bawa mimpi, tadi.

It was not you, exactly. Tapi seseorang yang mirip kamu, yang ku damba adanya. Ia, seorang anak laki-laki manis dengan nama yang lucu. Nama nya berdiri atas 3 huruf. Gadis kecil ini lalu dirayunya, dijahili sampai kesal tapi entah mengapa ia tertawa. Mereka tertawa. Aku ingat (di dalam tidur), bagaimana aku tersenyum, bagaimana ia tersenyum. Lalu, lama-lama, somehow but I don’t know how, kita terjatuh dalam suka. Ku kian sering memanggil nama dia berirama riang, dan dia hanya menengok dan tertawa kecil saja. Layaknya dua anak kecil berusia belia, kita bermain bersama tanpa kenal batas waktu yang ada. Tapi lalu cerita berubah aneh. Ternyata aku hanya orang ketiga nya. Aneh, kenapa begitu? The story fucked up.

Lalu aku bangun di pagi yang kesiangan. Kamar sudah terang saja. Sinar matahari terasa hangat selimuti ruang. Aku masih terbaring di atas kasur, mengingat cerita manis bersamanya di dalam mimpi.

Andai semua itu nyata adanya (except the last fucked up part of the dream), I’ll be the happiest person on earth.

“イト。”

Advertisements