Elektron Bebas

Muak bagai batu pada riak,
Pada air ia berdentum tak ada suara ledak tapinya.
Sepi dalam ramai waktu aku berdiri
Karena sendiri dalam kerumunan aku benci
Kalau ada lagu bukan dansa ku mau tapi api pada nya

Di kala Desember kadang orang dambakan hujan tapi salju ku mau
Tapi orang kata khayal ku maya.
Kalau khatulistiwa memaku diri disini hanya lari ku bisa,
Bukan terbang,
Hanya diam.

Kalau Tuhan itu raksasa,
Genggam bumi bagai gula,
Aku hanya elektron bebas di atasnya.
Bebas,
Secara harafiah. Bebas.

Kalau pandang waktu pada analog di dinding, mesin, apa yang lainnya,
1 hari itu 24 jam
1 jam itu 60 menit
1 menit itu 60 detik.
1 detik itu,

Kalau bisa hitung dengan jari,
Menunggu penat yang kuhitung..
16 menit lagi
Dari 60 menit lalu
Tak terasa, hanya bagai hembus angin pada air
Angin tiup gelombang air.
Ku pandang muka nya sama, tapi, nyatanya ia berpindah.
Gelombang pindahkan atom,
Satu senti ke satu meter.

Apa intinya,
Kalau muka dunia sama,
Entah,
Tapi seakan ia berubah rona.
Seakan beku ia buat pada otak.
Mau apa,
Kalau sedikit demi sedikit ia buat hati remuk,
Hanya dengan sunyi.

Sepi.

Aku bagai sepasang elektron bebas.

Secara harafiah. Bebas.

Aku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s