Haru

Depanku ramai terpadati bising

Lantai marmer kelabu bertemankan ampas berserak

Basah terbanjur air kian mengering

Rintik menegur dibawah awan berarak

 

Tak tahan amis ikan air di deretan meja

Sahutan dan teriakan tak tahu diri menyahuti telinga

Satu langkah kaki oleng tak sengaja

Bagai gempa tubuh terguncang masa

 

Tak peduli bangkai pun mereka beri

Tak peduli basi pun mereka beli

Nego tinggi jadi demi ego

Untuk selembar kertas usang berangka

 

Seketika hening seakan rotasi berhenti

Ribu-ribu bisikan hilang bagai tuli

Ku tangkap suara kaki malaikat berjalan anggun

Melodi sendu lalu perlahan mengalun

 

Tubuh ringkih mata sayu

Wajah bergurat ber aura lesu

Helaian rambut putih hilangkan hitam

Melangkah pelan dalam pandangan buram

 

Ia tersenyum

Tak hirau aroma sampah seolah hilang oleh harum

Berjalan bungkuk di atas sandal lusuh

Menopang dagangan seberat baja di atas punggung

Tak hirau peluh membanjur tubuh

 

Menapak jalan sempit bagai gang berdinding manusia

Perjalanan bagi nya perjuangan

Asa menetap tak hilang dari jiwa

 

Baginya kini hanyalah nyawa

Tak hirau kata dan cibiran mereka

Hidup telah terlanjur sengsara

Tertinggal cinta dari kasihnya

Kini hanya bersandar diri pada sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s