“Kesederhanaan adalah kekayaan terbesar yang bisa kita miliki. Rendahkanlah dirimu, maka kamu akan ditinggikan.”

Advertisements

اَيَوَدُّ اَحَدُكُمْ اَنْ تَكُوْنَ لَهٗ جَنَّةٌ مِّنْ  نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۙ  لَهٗ فِيْهَا مِنْ كُلِّ  الثَّمَرٰتِ ۙ  وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَآءُ  ۚ  فَاَصَابَهَاۤ  اِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمُ  الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ

“Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 266)

Manusia yang satu itu terlalu mudah menangkap hal-hal baru yang hinggap di dunianya. Menganggap semua itu sempurna dan terhebat, padahal mata dan kakinya belum memandang dan menjejaki dunia sepenuhnya.

Tentang Diam. 

Kala diri selalu sendiri, kadang kondisi membuat sedih. Perlahan menetes tangis yang membuat kain bantal yang ditiduri jadi basah. 

Anxiety? I guess so.

“Aku sendiri, aku sepi.”

Kalimat yang suka terngiang dan berteriak dalam benak. Ia meronta dan meminta hilang. Kalimat itu membuat otak kacau. Otak jadi menyuruh jiwa untuk mati. Menyuruh raga untuk menyerah. 

Apa yang aku keluhkan tak akan bisa mereka mengerti. Tentang sepi yang membuat takut, tentang sendiri yang membuat gelisah. Tentang iri hati, tentang cemburu. Melihat orang-orang berkawan banyak membuat emosi ku meledak, membuat hati berteriak, membuat hati menangis keras. 

Ini, hal sepele yang mereka tak akan pernah paham.

Pagi buta, mata sembab

Selamat pagi, Januari.

Tahun berganti. Nama bulan di kalender kembali lagi ke awal. Pagi hari tak ada yang berubah. Masih kicau burung yang sama. Kicau burung kecil yang bersahutan riang. Ayam mulai berkokok, saling memanggil kawannya dari rumah ke rumah. Terdengar ada seekor anjing ikut menggonggong.

Ku lihat langit lewat gorden transparan masih gelap. Secara sekarang masih pukul lima subuh. Sepertinya hari ini bakal mendung. 1 Januari yang kelabu. 

Ku lewatkan malam tahun baru dengan mata terlelap yang cukup sembab. Terisak benar sampai nafas tercekik rasanya. Teringat kenangan buruk selama 2017 dan betapa ingin aku segera pergi dari itu dan membuang mereka jauh. Aku juga menangis karena baru sepenuhnya bangun dari sadar bahwa… I don’t have any friends. Not one! I only have him. As a lover, as my bestfriend. Kemana teman SD? kemana teman SMP? Kemana teman SMA? Mereka peduli pun tidak. Mereka sudah punya sahabat lain. Aku hanya sekedar nama dalam sebuah buku pertemanan.

2018. What’s so new? Cuma angka 7 yang diganti 8. Dan, as I said, sebuah penanaman persepsi kalau semuanya baru lagi. Mulai dari awal yang baru. Resolusi, plans, changing for good, blablabla, etc.

Let’s just see, what will I be this year.